Sambutan Gerimis di Paris-CERN Summer Programme Bagian 14

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya berpetualang di Kota Paris, salah satu kota yang terkenal di dunia karena keindahan Eiffel Tower-nya. Saya tak pernah menyangka bisa menginjakkan kaki saat masih menjadi pelajar dan itu semua tanpa biaya dari diri saya sendiri atau dengan kata lain gratis. Banyak orang yang berpergian keluar negeri dengan mengandalkan uangnya sendiri dari hasil usahanya bekerja selama berpuluh tahun, mereka melakukannya disaat tua. Itu juga sebuah prestasi, namun akan lebih menantang jika kita bisa berpergian ke luar negeri di saat muda, dimana rasa ingin tahu berkeliaran di pikiran kita. Namun ada juga anak muda yang keluar negeri dengan kekuatan uang dari orang tuanya, bagi saya itu manja. Ada juga anak muda yang tidak mempunyai uang banyak namun memiliki semangat dan impian, melihat peluang melalui statusnya sebagai mahasiswa dan dengan sedikit kombinasi dari ketekunan belajar, berusaha dan berimajinasi (imajinasi itu mencakup doa, harapan dan impian) bisa menginjakkan kaki di benua biru Eropa dan salah satunya kota Paris! Semua bisa dilakukan dengan memanfaatkan status sebagai mahasiswa dan mencoba peluang-peluang emas yang bisa membawa kita melihat dunia baru di luar sana. Usaha terbaik pasti harus diberikan namun dibalik semua itu, kekuatan impian dan imajinasi bagi saya adalah pendorong nomor satu.

Aku ingat saat itu tanggal 8 Agustus 2014 sore sekitar pukul 16.00 saya dan Bagus sedang menunggu shuttle bus milik CERN yang menuju Cointrin Airport (Bandar Udara Jenewa). Kami sudah mem-booking tiket maskapai air france tujuan Charles de Gaulle, Paris. Kami saat itu hanya membawa satu tas punggung, kami siap menjelajahi Paris. Pesawat dijadwalkan terbang pukul 17.30. Pergi ke Paris sudah menjadi tujuan kami sejak sebelum berangkat ke Jenewa dan akhirnya kami akan memiliki 2 hari 2 malam di Paris :). Pesawat kami tepat waktu dan menjelang pendaratan di Paris, kami melihat Paris diatas ditutupi awan mendung. Kami mendarat dengan selamat sekitar pukul 19.00 dan gerimis menyambut kedangan kami, Hi Paris! :).

Bonjour Paris, Gerimis, Charles de Gaulle
Sebelum berangkat ke Paris, saya mem-posting sebuah permintaan tolong untuk tumpangan yang bisa mengakomodasi dua orang di grup PPI Perancis dan ada seorang Kakak yang baik hati bernama Kak Sofwan Hakim yang membolehkan kami bermalam di kamar apartemennya :). Sayangnya saat kami di Paris, dia sedang pergi ke Austria untuk liburan musim Panas sehingga kami tetap diperbolehkan menumpang di kamarnya dan kunci kamarnya di titipkan di Kak Vini, seorang mahasiswa Desain yang juga sedang menuntut ilmu di Paris. Saat mendarat di Paris, kami berencana untuk menemui Kak Vini untuk mengambil kunci kamar sekitar pukul 22.00 waktu Paris. Kami berencana untuk mengunjungi Eiffel dahulu sebelum menemui Kak Vini. Kami langsung menuju Tourist Information untuk membeli Paris Days Pass untuk transportasi. Saat itu kami membeli untuk 3 hari transportasi dalam kota Paris yang meliputi Subway dan Tram. Harganya sekitar 56 Euro, sangat mahal jika di-Rupiahkan. Saat itu kami tidak memperdulikan uang karena memang semua itu bukan uang milik kami, melainkan gaji dari kegiatan internship kami :). Kami menyempatkan untuk berfoto di dalam bandara sebelum akhirnya naik ke kereta untuk menuju pusat kota. Perlu diketahui Bandara Charles de Gaulle berada di pinggiran kota paris yang berjarak sekitar 40-an menit dari pusat kota (Eiffel Tower). 

Hi Paris!

:) Bersemangat
Didalam metro
Charles de Gaulle ke St Michel Notre Dame
Di sepanjang perjalanan, teman saya Bagus asik mengambil foto dari jendela kereta, saya menikmati, dan lagi-lagi tersenyum mengingat akhirnya saya bisa bermain ke kota ini. Destinasi pertama kita adalah Notre Dame Cathedral, salah satu Catholic Cathedral yang terbesar dan sangat terkenal di dunia. Konstruksi dimulai pada tahun 1163 pada masa Louis VII. Saya tidak banyak tahu tentang sejarah bangunan ini, namun saya bisa melihat kemegahan dan kemewahan dari Cathedral ini, memang tempat yang dipersiapkan untuk memuja Tuhan dalam opini saya. Sebuah bangunan yang arsitekturnya elegan dan menjulang tinggi dengan jendela-jendela raksasa yang menghiasinya. Saat itu gerimis cukup lebat, kami tidak membawa payung dan hanya berbekal jaket. Bagi saya hujan bukan halangan untuk menikmati suasana dan berfoto sebagai kenang-kenangan "moment to remember". Saya menikmati lingkungan disekitar, melihat lantai halaman Notre Dame yang ditutupi oleh batu besar kuno. 
Notre Dame Cathedral!
Saat itu sudah sekitar pukul 20.00 namun matahari masih memberikan sinar karena saat itu musim panas. Cukup menikmati suasana di tempat bersejarah ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Eiffel Tower. Kami menuju stasiun St Michel Notre Dame lalu menaiki metro menuju stasiun terdekat Eiffel, perlu diketahui bahwa stasiun metro di Paris cukup seram karena gelap dan banyak orang-orang tidur didalam seperti gelandangan, melihat hal itu kami jadi teringat pesan-pesan dari teman-teman yang sudah pernah berkunjung ke Paris bahwa mereka meminta kita berhati-hati terhadap barang bawaan kami terutama dompet dan passport sehingga kami selalu menaruh tas kami di depan saat menaiki metro dan juga berjalan di jalanan kota Paris. Kami sadar Paris adalah kota Megapolitan dimana aksi pencopetan dan gelandangan pasti banyak. Paris juga terlihat sedikit kotor saat itu, mungkin itu bagian dari identitas yang melekat dari kota Megapolitan. Sial saat itu bagi kami karena beberapa jalur metro sedang diperbaiki sehingga kami harus tersesat beberapa kali dan bodohnya karena kami tidak mengerti Bahasa Perancis sehingga kami tidak tahu jalur alternatif menuju Eiffel Tower. Singkat cerita kami mampu melakukannya, turun distasiun dekat menara Eiffel dan melihat keindahannya dari jauh lalu perlahan mendekat. Kami sedang berada di salah satu kota yang menjadi tujuan banyak orang, kami melakukannya!

Di stasiun metro yang remang-remang, tas didepan!
Penutupan jalur metro, kami tidak paham 
Eiffel dari jauh :)
Kami berjalan menyusuri jalan gelap dengan saling mengawasi satu sama lain. Menatap Eiffel yang berkilau dengan awan yang memayunginya, sebuah pemandangan yang indah dan aku teringat dengan seorang perempuan di Indonesia. Akhirnya kami sampai di dekat kaki Eiffel Tower. Sepi jalanan yang telah kami lewati mendadak berubah menjadi keramaian yang disebabkan oleh Eiffel. Kami terus berjalan sambil memandang Eiffel, sedikit tak percaya kami sudah berada hampir tepat dibawahnya. Hanya perasaan bahagia yang kami rasakan saat itu, dan kami tidak tahu kapan lagi akan berkunjung untuk menengok Eiffel yang indah ini. Hujan gerimis menjadi bumbu kebahagiaan seperti orang yang menangis karena bahagia, Paris pun gerimis berbahagia menyambut kami :).  Tepat dibawah Eiffel, banyak orang berfoto, terutama pasangan muda. Ada juga keluarga yang menikmati momen kebersamaan dan banyak pedangang yang berusaha mengais hidup dengan menjual miniatur Eiffel dan juga segala bentuk souvenir yang berhubungan dengan Eiffel. Suasana sungguh hidup, ramai, ribut dan dinamis saat itu. 

Beau-Eiffel
Cheeeeseeee :p
Kami banyak menghabiskan waktu untuk berfoto, langit yang menghamburkan cahaya menambah keindahan Eiffel, memberikan efek "agung" untuk menara ini. Kami selanjutnya berjalan menyusuri taman Eiffel yang becek karena hujan dan diinjak-injak oleh pengunjung, dan menyempatkan selfie :p.
Selfie eiffel
Kami juga berkesempatan melihat eiffel memancarkan cahaya yang berkelip-kelip dari seluruh bagian badannya, sungguh indah. Sebenarnya waktu janji kami pukul 22.00 namun saat itu sudah lebih dari itu sehingga kami bergegas untuk menuju ke meeting point kami dengan Kak Vini. Sayangnya kami tidak memiliki akses internet saat itu sehingga kami tidak bisa menghubungi Kak Vini untuk memberi tahu bahwa kami telat dan meminta maaf atas kejadian ini. Kami masuk ke stasiun subway metro, dan pindah menggunakan bus setelah beberapa stasiun metro karena stasiun selanjutnya sedang di perbaiki. Tuhan memang baik, sambil menunggu bis, Handphone Bagus bisa mendeteksi wifi milik cafe yang sudah tutup dan beruntung ada orang yang tahu passwordnya sehingga kami bisa menghubungi Kak Vini dan janjian untuk bertemu pada pukul 24.00 di Montparnasse Bienvenue. Saat itu masih gerimis dan Kak Vini menjemput kami dengan menggunakan jas hujan dan membawa papan nama kami berdua. Kami diajak ke kamar apartemennya. Awalnya kami ingin ambil kunci lalu menuju ke apartemen Kak Sofwan, namun rencana berubah mengingat sudah lewat tengah malam dan hujan serta semua metro akan berhenti pukul 01.00 dan kami tidak yakin bisa menemukan apartemen Kak Sofwan di keadaan gelap hujan seperti saat itu. Akhirnya kami menginap di kamar Kak Vini dan disana Kak Vini tinggal bersama kakaknya yang juga perempuan. Kami agak sedikit merasa tidak enak karena merepotkan namun apa boleh buat mengingat kondisi yang tidak memungkinkan. Terimakasih Kak Vini mau menampung kami :). Malam kami lewati dengan tidur sangat lelap karena memang sangat kelelahan dan keesokan harinya kami bangun sekitar pukul 08.00 dan bergegas menuju kamar apartemen Kak Sofwan di daerah Bibliotheque Ft Mitterand (Kalau saya tidak lupa). Untungnya semalam kami sempat membeli kartu Lebara untuk internet dan pagi ini dengan dipandu GPS Handphone milik Bagus kami akhirnya sampai di kamar apartemen yang bagus milik Kak Sofwan. Kami sangat berterima kasih kepada Kak Sofwan karena berbaik hati mau meminjamkan kami kamar yang sangat nyaman. Disana kami mandi, makan Indomie bekal yang kami bawa (Indomie membantu disaat kritis). Kami akan menjelajahi Paris dan sekitarnya hari Sabtu itu. Pertama-tama kami belanja dahulu di carrefour didekat sana untuk persediaan bahan makanan (perlu diketahui, carrefour di Perancis tidak buka 24 jam apalagi di hari Sabtu). Kami membeli spaghetti, pasta dan juga telur serta beberapa buah. Selanjutnya kami bergegas menuju ke Versailles, suatu kota di pinggiran Paris. Tujuan kami yaitu melihat Chateau de Versailles. Perjalanan memakan waktu kurang lebih sejam, namun keretanya sungguh sepi dan interiornya didesain layaknya ruang istana.

Langit-langit kereta ke Versailles
Akhirnya kami tiba di Stasiun Versailles sekitar pukul 12.00 dan berjalan menuju Chateau de Versailles. Kami mengabadikan banyak foto sepanjang kami berjalan kaki, sebuah kota yang tenang dan sangat berbeda dengan Paris yang penuh dengan keramaian. Versailles mungkin bisa dikatakan berupa village bagi orang Paris.

Chateau de Versailles terlihat di ujung jalan
Kami menikmati perjalanan ini, melihat dunia baru. Kami tiba di Chateau de Versailles dan disana sudah banyak sekali wisatawan memadati istana yang megah ini dengan warna keemasannya, bangunan yang megah dengan dinding yang mencerminkan ia didirikan pada masa lampau. Halamannya juga ditutupi dengan lantai batu kotak berwarna coklat. Mereka mengantri ingin masuk ke istana. Kami sebenarnya ingin masuk ke dalam istana melihat bagaimana rumah raja namun kami berpikir ulang setelah melihat antrian yang sangat sangat panjang. Kami tidak ingin membuang waktu untuk mengantri. Akhirnya kami memutuskan hanya melihat istana dari depan, duduk di halaman istana menikmati waktu yang berharga ini, time flies! Kami menyempatkan berfoto.

Penuh Wisatawan
Istana Emas
Senyum :)
Menikmati waktu di halaman istana
Setelah itu kami sempat berkeliling di sekitar area istana, melihat kota yang bersejarah ini. Tak terasa sudah pukul 15.00 dan kami pun bergegas menuju destinasi selanjutnya. Kami masih memiliki banyak daftar tempat dan monumen yang ingin kami kunjungi! Kami menaiki kereta menuju pusat Kota Paris. Tujuan kami adalah monumen Arc de Triomphe. Ini adalah monumen penghormatan untuk pejuang yang meninggal untuk Perancis dalam Revolusi Perancis. Sebuah monumen yang sangat besar yang terletak ditengah-tengah jalan yang padat dilalui kendaraan. Untuk menuju monumen tersebut bisa melalui lorong bawah tanah dan bisa juga naik keatasnya. Kami berdua tidak masuk ke dalam dan naik karena lagi-lagi antrian cukup panjang sehingga kami harus puas dengan berfoto di depannya saja :).

Arc de Triomphe
Kami melanjutkan petualangan kami, selanjutnya adalah Louvre. Kami menggunakan metro seperti biasa dan berhenti di stasiun terdekat objek ini. Louvre adalah museum terbesar di dunia dan sebuah monumen historis. Museum ini memiliki sedikitnya 35000 objek dari zaman pra-sejarah sampai abad ke 21. Museum ini juga masuk ke dalam film The Davinci Code. Teman-teman kami yang sudah pernah mengunjungi Louvre bilang bahwa diperlukan setidaknya sehari penuh untuk melihat semua isi museum dan ternyata memang benar, museum ini sungguh besar. Dulu saya mengira museum ini hanya sebatas piramid kaca yang merupakan simbol terkenalnya. Kami tidak melihat-lihat didalam museum mengingat saat itu sudah sekitar pukul 17.00. Lagi-lagi kami harus puas dengan berfoto saja disini. Saat nanti aku mengunjungi Paris lagi, aku akan masuk kedalam museum melihat koleksi-koleksinya yang mengagumkan.

Halo Piramida Kaca!
Perjalanan kami belum selesai hari itu, beberapa tempat masih menunggu kami! Kami menuju Obelisk yang terletak di kawasan Place de la Concorde. Saat itu matahari sudah mulai meredup dan kami beristirahat cukup lama disana karena memang hari itu sangat padat namun sungguh penuh pengalaman. Kami menyempatkan berfoto, melihat kendaraan yang berlalu lalang sambil menunggu matahari semakin meredup. 

Obelisk
Place de la Concorde
Kami merasa sangat lelah dan memutuskan untuk kembali ke kamar apartemen. Saat itu sekitar pukul 19.00 dan kami tiba di kamar apartemen sekitar pukul 20.00. Kami menyantap makan malam lalu bersiap-siap untuk tidur. Esok akan menjadi hari terakhir kami di Paris karena senin tanggal 11 Agustus 2014 kami harus melanjutkan minggu terakhir internship kami di CERN, time flies! 

Keesokan harinya, kami mengemas barang kami dan menuliskan sebuah ucapan terimakasih beserta kenang-kenangan untuk Kak Sofwan. Kami menuju kamar apartemen Kak Vini untuk mengembalikan kunci lalu melanjutkan agenda kami. Kami berencana menuju Sacre-Coeur, gereja katolik roman dan minor basilica. Ini adalah landmark terkenal di Paris karena selain kemegahan bangunannya, lokasi juga berada di puncak butte Montmartre yaitu titik tertinggi Kota Paris. Kami ingin melihat Paris dari atas puncaknya. Kami tidak sempat naik keatas Eiffel sehingga memutuskan untuk menuju tempat tersebut. Beberapa teman juga bilang di daerah ini sangat populer untuk membeli oleh-oleh karena harganya lebih murah. Saat itu mendung dengan gerimis yang sangat lembut. Kami mendaki untuk mencapai Sacre-Coeur. Kami menikmati dan tidak terasa sampai di tujuan kami. Sebuah tempat yang sangat cocok untuk melihat Paris dari atas, sungguh indah. Paris dengan bangunan-bangunannya, mendung mengaburkan pandangan ke arah bawah namun menimbulkan kesan klasik :). 

Sacre-Coeur
Paris dari atas
Kami punya keinginan untuk melihat Eiffel sekali lagi disaat daylight, sebagai ikon kota Paris, kami belum puas hanya melihatnya disaat malam. Kami menyempatkan membeli oleh-oleh di Sacre-Coeur dan bergegas menuju Eiffel lagi! kami harus mengejar waktu karena pesawat kami akan terbang pukul 19.00 dari Charles de Gaulle. Tibalah kami di Eiffel, lagi! Saya ingin duduk setengah jam disana, saya ingat saat itu pukul 14.00 saya menikmati suasana Eiffel yang dipayungi awan, suara air mancur di tamannya juga masih teringat di pikiran saya. Pedagang yang mayoritas orang kulit hitam menjajakan miniature Eiffel. Saya tidak tahu kapan lagi saya bisa mengunjungi kota ini, kalau ada kesempatan lagi, saya ingin mengunjunginya bersama Ibu saya dan seorang perempuan di Yogya sana.

Eiffel di siang yang mendung
Bagus Eiffel Bima
Tidak ingin rasanya bergegas dari dudukku yang penuh kenikmatan merasakan waktu berjalan cepat mendengarkan setiap momen yang terjadi selama setengah jam. Kami belum makan siang saat itu dan kami beranjak ke tempat makan yang terkenal, bukan masakan Paris namun masakan Vietnam. Restoran ini cukup terkenal disini. Mirip seperti Bakso namun rasanya khas Vietnam. 

Vietnam Cuisine
Perjalanan kami di Paris tinggal perjalanan menuju bandara, kami harus berpisah dengan Paris untuk kembali ke Jenewa, Swiss. Sungguh 2 hari 2 malam yang padat dan penuh petualangan melihat hal baru serta merasakan berbagai macam momen. Hidup terus berjalan. Aku akan merindukan Paris. Kami menaiki metro menuju bandara. Melakukan check in dan menunggu pesawat kami. See you agai Paris! 

Bon Voyage!


Credits to Bagus untuk Kamera-nya yang helpful dan jepretan-jepretannya :)

Comments

  1. Anonymous1:47 pm

    Keren kak :D , Salam Sukses selalu

    ReplyDelete
  2. Cerita yg menarik Bro. Mari kita bangun Indonesia spt itu

    ReplyDelete
  3. Cerita yg menarik Bro. Mari kita bangun Indonesia spt itu

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks for Commenting :)

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti ON MIPA-PT 2012 (Bagian 1)

Revolutionizing Indonesian University

Flash Back : Berjuang di Olimpiade Sains Nasional 2010 Medan, Sumatera Utara