Sebuah Kota di Barat Laut Swiss-CERN Summer Programme Bagian 13

Sebelum saya bercerita bagaimana minggu ke-6 CERN Student Summer Programme 2014 yang saya alami, saya ingin bercerita tentang weekend minggu ke-6. Tak terasa saat itu sudah memasuki tanggal 2 dan 3 Agustus 2014. Tanggal itu sudah ada sebuah agenda yaitu Mbok Ayu(Mbok adalah Panggilan Kakak cewe yang jauh lebih tua untuk dalam Bahasa Bali), dia adalah anak dari Teman Bapak saya dan sebelum berangkat ke Geneva saya sempat bertemu mereka di Singaraja, Bali. Kebetulan saat itu Mbok Ayu sedang berada di Bali untuk menengok keluarganya dan mereka bermain ke rumah saya di Singaraja. Saat saya betolak ke Geneva, ternyata seminggu kemudian Mbok Ayu juga kembali ke Brisago, Swiss, tempat tinggalnya saat ini. Dia memiliki suami orang Swiss bernama Geo. Mbok Ayu mungkin merasa perlu bertemu saya karena sebuah kesempatan yang langka dimana kami saling mengenal dan berada di negara yang sama yaitu Swiss. Melalui percakapan yang panjang, akhirnya kami sepakat untuk bertemu pada tanggal 2 Agustus 2014. Kebetulan tanggal 1 Agustus adalah hari libur nasional di Swiss karena Swiss memperingati hari itu sebagai kelahiran Swiss. Mbok Ayu bersedia mengunjungi saya di Geneva. Dia dan Geo berangkat dari Brisago pada tanggal 1 Agustus dan menemui saya di Geneva tanggal 2 Agustus sekitar pukul 10.30 pagi. Mereka ingin mengajak saya bermain ke sebuah kota di sebelah barat laut Swiss. Sebuah kota di tepi Danau Lac Leman (mirip dengan Geneva), memiliki kombinasi moderen-klasik. Kota ini bernama Laussane (Baca : Lozan). 
Pukul 11.00 kami berangkat menuju Laussane dari Hostel CERN di St. Genis. Jarak yang harus ditempuh sekitar 64 Km. Geo mengendarai mobil dengan santai, kami sempat berhenti di tempat peristirahatan di tepi jalan tol untuk membeli roti dan minuman. Cuaca saat itu matahari bersinar tanpa ada awan yang berani menghalangi namun tetap saja suhu saat itu sangat dingin (mungkin sekitar 13 derajat celcius). Sebenarnya saat itu kami masih bingung ingin mengunjungi tempat apa saja disana, yang terpikirkan oleh saya hanya mengunjungi Ecole Polytechnique Federale de Laussane (EPFL). Itu adalah politeknik yang cukup memiliki reputasi di dunia. Diperjalanan, Mbok Ayu dan Geo akhirnya memutuskan kami juga akan ke museum Olympique Musee Laussane, yaitu musium olimpiade, sebuah even akbar dunia 4 tahunan sekali yang diselenggarakan di berbagai negara dan berbeda setiap tahunnya. Jika mobil dikemudikan dengan kecepatan rata-rata 50 Km/jam maka kami harusnya sudah sampai dalam waktu 1 jam 15 menit-an. Namun karena sempat beristirahat sehingga kami sampai di Laussane sekitar pukul 13.15.

Brissago (lingkaran merah terkecil), Geneva dan Laussane
Geo langsung mengarahkan mobilnya menuju EPFL dengan bantuan Google Maps. Saat itu memang sedang hari libur, saya menerka EPFL akan sangat sepi karena mahasiswa sedang berlibur summer. Kawasan kampus ini begitu asri, kampus teknologi dengan gaya bangunan yang unik ditambah pepohonan yang cukup menghijaukan lengkap dengan lapangan sepak bola serta danau yang biru dan memantulkan sinar matahari layaknya berlian jika dilihat dari wilayah kampus. Ya dana hanya berjarak kurang lebih 500 m dari bangunan-bangunan kampus, sebuah tempat belajar yang sangat nyaman. Kami memarkir mobil kami di tempat parkir dan kami berjalan menuju dalam kampus. Saya merasa senang bisa mengunjungi salah satu politeknik terbaik di dunia. Bangunannya unik, namun sayang saya tidak bisa masuk ke dalam perpustakaan atau fasilitas lainnya karena saat itu libur. Kami berjalan-jalan sedikit di dalam kampus menikmati terik matahari ditemani dinginnya siang. kami menyempatkan untuk berfoto, mengabadikan momen. Aku berharap aku bisa lagi mengunjungi politeknik ini, bukan sebagai mahasiswa namun mungkin dalam rangka konferensi ilmu pengetahuan :). 

EPFL (diambil dari http://icwww.epfl.ch/)
Sebuah bangunan yang unik
Dibawah bangunan unik
Selayang Pandang EPFL
Pose!
Tak terasa kami berada di sana sekitar satu jam dan bergegas kembali menuju ke mobil untuk menuju ke Olympique Musee Laussane!. Google Maps telah di-set dan Geo mengemudikan mobilnya. Pejalanan memerlukan waktu sekitar 20 menit, hal ini karena kami lama mencari tempat parkir!, ya sepanjang jalan tempat parkir sudah habis, mungkin karena saat itu hari libur sehingga banyak orang yang berkunjung ke musium tersebut. 

Didepan Le Musee Olympique

Dari kanan ke kiri : Mbok Ayu, Geo, Saya
Akhirnya tempat parkir didapat dan kami masuk ke dalam area musium. Banyak sekali hal yang dipamerkan di musium ini dan intinya semuanya berkaitan dengan dunia olahraga yang berhubungan dengan Olimpiade yang diadakan 4 tahun sekali. Dijelaskan mulai dari sejarah olahraga Yunani, sejarah diselenggarakannya Olimpiade pertama kali, dipamerkan alat-alat yang digunakan dari Olimpiade pertama hingga Olimpiade terakhir. Banyak video ditayangkan yang menggambarkan pembukaan Olimpiade sejak pertama kali bisa diabadikan. Musium ini menyediakan penjelasan berupa rekaman suara dalam 2 bahasa yaitu Inggris dan Perancis. Kami menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam didalam musium tersebut. Banyak hal yang saya tidak tahu tentang Olimpiade ternyata (sudah jelas hahaha). Setelah puas di musium, kami merasa lapar lalu mencari restoran dan akhirnya kami memilih restoran italia dan saya memesan pizza yang cukup besar, waw!

Didalam Musium
Raket Kayu
Saya lupa ini apa hehehe
Zona Yunani Kuno
Pizza!
Porsi yang sangat besar dan saya menghabiskannya sendiri hehehe, sangat kenyang rasanya dan energi sudah terisi kembali. Selanjutnya kami memutuskan untuk pergi ke downtown lalu memarkir mobil kami disuatu parking house dan berjalan-jalan menyusuri kota yang dihuni bangunan besar, kokoh dan kaku. Bangunan ini membuat kota ditutupi bayangan di sore hari disaat matahari menyinari dari sudut yang cukup landai. Seperti biasa, kota tua Eropa dengan ciri khasnya jalanan mobil yang sempit, trotoar pejalan kaki yang lebar serta gang-gang kecil beralaskan paving-paving serta bangunan tua yang tetap kokoh tidak termakan waktu. Mereka sangat berhasil memelihara warisan masa lampau, sungguh suatu sikap penghormatan yang mengagumkan ditengah serbuan modernisasi dan gaya bangunan baru. 

Hi Laussane!

Kenangan Laussane

Gang-gang kecil

Gang-gang kecil
Tak terasa waktu ikut larut dalam rasa senang menyusuri kota ini, sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Berkunjung ke Laussane walaupun hanya 12 jam. Karena Mbok Ayu dan Geo akan kembali ke Brisago melalui jalur yang berbeda sehingga saya pulang ke Geneva dengan menggunakan kereta. Geo mengantar saya ke stasiun untuk membeli tiket kereta lalu kami melanjutkan sedikit perjalanan kami menikmati senja di  Laussane. Semoga saya memiliki kesempatan untuk kembali mengunjungi kota-kota Eropa salah satunya Laussane :). Bermimpilah karena mimpi akan memberi kita semangat dan motivasi. Sampai jumpa di lain kesempatan Mbok Ayu dan Geo! Terimakasih atas perjalanan yang menyenangkan ini! :)

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti ON MIPA-PT 2012 (Bagian 1)

Revolutionizing Indonesian University

Flash Back : Berjuang di Olimpiade Sains Nasional 2010 Medan, Sumatera Utara