My First Hitchhiking and Lyon-CERN Summer Programme Bagian 9

"Budaya di Eropa sangat berbeda, ini pertama kalinya aku pergi ke suatu kota, yaitu Lyon dengan menumpang atau "Hitchhiking" , awalnya takut tapi ternyata orang orang Eropa sangat baik, mereka memberi tumpangan dengan gratis"

Aku di dalam mobil tumpangan
Suasana di dalam mobil tumpangan menuju Bellegarde bersama teman-teman



Weekend telah tiba lagi, ini adalah weekend keempat saya selama berada di Jenewa, Swiss. Hari itu tanggal 12 Juli 2014. Saya, Iliya dan Vladimir sudah merencanakan untuk mengunjungi salah satu kota besar di Eropa yaitu Lyon. Iliya adalah teman saya di CERN Summer Student Programme yang berasal dari Bulgaria dan Vladimir berasal dari Macedonia, mereka berdua baik namun sangat berbahaya hehehe. Sebenarnya rencana ini sudah dibicarakan sejak Hari Kamis dan Jumat. Awalnya kami ingin ke Lyon dengan menggunakan moda transportasi kereta namun karena kami memesan kereta dekat dari hari keberangkatan maka harganya sangat mahal yaitu 70 CHF sekali jalan atau 140 CHF untuk pulang pergi. Bagi kami harga itu sungguh tak masuk akal mengingat jarak antara Jenewa dan Lyon hanya sekitar 160-an Km. Muncul lah ide seru dan sedikit gila dari mereka yaitu menumpang ke Lyon dengan mengacungkan ibu jari di pinggir jalan dengan hanya membawa ransel dan selembar kertas bertuliskan singkatan dalam Bahasa Perancis yaitu : S.V.P Lyonnaise yang dalam bahasa inggris berarti : if you are free, take us to Lyon. Saat ide itu pertama kali dicetuskan, saya merasa ketakutan karena maklum Pria Indonesia ini sebelumnya belum pernah melakukan hal seperti ini di negeranya. Indonesia tidak memiliki budaya untuk menumpang dan memberi tumpangan ke orang asing di pinggir jalan. Disini banyak orang takut untuk menumpang atau memberi tumpangan karena mereka takut akan terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang asing (rasa curiga antar orang asing yang mungkin cukup besar). Disini kondisinya sungguh beda menurut teman-teman saya, pengendara mobil yang hanya berpergian sendiri akan senang sekali menerima orang yang memerlukan penumpang dengan tujuan ingin membantu dan punya teman ngobrol di jalan. Saya sempat sungguh ketakutan sehingga beberapa bertanya ke Iliya dan dia berusaha meyakinkan saya terakhir kalinya dengan berbicara "You are a man, What are you afraid of Bima?", "I will not push you if you afraid, you can join or not" ya karena masih ragu, akhirnya saya bertanya ke Bapak saya apakah menurut dia ini aman dan dia pun bilang tidak apa-apa. "Tenang saja, Bapak juga dulu  dari Aachen ke Koln menumpang sendiri" ya cerita dari pengalamannya membuat saya seketika berani tanpa penuh keraguan :).

Hitchhiking pun dimulai, sekitar pukul 11.00 kami menuju spot untuk berdiri di jalan dari kota St. Genis menuju Lyon. Hari itu cuacanya sangat cerah, matahari bersinar dengan langit yang biru dengan sedikit awan tipis yang menggantung. Vladimir membawa selembar kertas bertuliskan dan dia berdiri paling depan dari arah datangnya kendaraan sedangkan saya dan Iliya berdiri setelahnya mengacungkan ibu jari kami. Kami merasa agak sedikit malu karena beberapa pengendara mobil melihat kami sambil tersenyum, ada juga yang raut wajahnya terlihat masa bodoh dan ada juga yang agak kesal. Tak lama menunggu, kurang lebih sekitar 10 menit, sebuah mobil menepi dan memberi kami tumpangan namun hanya sampai Bellegarde, pengemudinya seorang pria warga perancis yang sedang pulang dari kantornya. Dari St. Genis menuju Bellegarde berjarak sekitar 30 Km.
St. Genis-Bellegarde
Kami mengobrol selama di jalan dan tak terasa sudah sampai di Bellegarde, saat itu sekitar pukul 12.00. Pria Perancis itu menurunkan kami di Pintu Tol dari Bellegarde menuju Lyon. Kami harus berdiri lagi di pinggir jalan sambil mengacungkan ibu jari dan memperlihat selembar kertas yang tadi untuk mendapatkan tumpangan dari Bellegarde ke Lyon. Dengan sabar kami menunggu dan sempat beberapa kali berpindah tempat dengan menunggu di dalam tol! namun akhirnya diusir oleh petugas tol karena dilarang hitchhiking di dalam tol. Satu hal yang saya takuti adalah saya takut dideportasi karena hal ini, namun teman saya Iliya bilang ini tidak ilegal jadi tenang saja hehehe. Setelah menunggu di depan pintu tol selama kurang lebih 45 menit, akhirnya ada sebuah mobil yang menepi yang dikendarai oleh sepasang suami istri muda dari perancis. Mereka berbaik hati dengan mobil mereka yang kecil untuk memberi tumpangan kepada tiga pemuda hehehe. Akhirnya kami akan sampai di Lyon! kami mengobrol di perjalanan, memperkenalkan diri, menceritakan asal kami dan apa yang kami lakukan di Jenewa dan mengobrol begitu saja tanpa terasa akhirnya kami tiba di Lyon pukul 14.30. Mereka menurunkan kami di suatu reruntuhan kuno (saya tidak tahu nama tempat itu) letaknya dekat dengan Basilica. Basilica adalah gereja yang terletak di daerah tinggi sehingga dari sana kita bisa melihat Kota Lyon yang terletak di bawahnya! 
Bellegarde-Lyon

Berfoto dengan latar Basilica
Disana kami bertiga melihat-lihat gereja yang sangat besar ini, memasuki gereja melihat interiornya yang begitu wah! Bangunan tua yang masih sangat terjaga keasliannya sehingga kesan klasik ditimbulkan. Kami bertiga menyempatkan berfoto dari Basilica. 
Selfie di Basilica
Basilica
Interior Basilica
Kemudian kami turun menuju ke bawah untuk menelusuri Lyon melihat celah-celah kota yang banyak memiliki bangunan klasik gaya khas Eropa. Bangunan yang kaku, berwarna coklat dan memiliki jendela serta pintu-pintu kayu yang besar dengan jalanan batuan kuno yang banyak pejalan kaki dan pesepedanya. Banyak wisatawan yang berjalan kaki untuk menelusuri kota ini. Sering kali kami menemui gereja-gereja kecil disepanjang perjalanan kami. Kami belum memikirkan kami akan bermalam dimana, maka dari itu kami mengunjungi tourist information center untuk menanyakan info hostel di Lyon. Kami diberi beberapa buku tentang hostel dan dua buah map Lyon sebagai bekal perjalanan kami selanjutnya. Kami beristirahat di sebuah restaurant untuk menentukan hostel yang akan kami tempati sembari memilih, teman-teman saya memesan kopi sedangkan saya tidak karena saya tidak minum kopi ataupun beer dan saat itu saya masih membawa air minum di tas saya. Akhirnya kami menentuka, yaitu Hi Hostel yang terletak tidak jauh dari Basilica dan tidak jauh juga dari tempat kami minum kopi. Kami bergegas menuju hostel tersebut, jalannya cukup menanjak, kami harus bolak balik rute ini nanti ketika main ke Lyon yang terletak lebih rendah dibanding lokasi hostel ini.
Rute menuju hostel
Suasana Depan Hostel

Shared Room di Hi Hostel
Hostel ini terbilang cukup murah jika dibandingkan hostel-hostel lainnya karena semalam biaya sewanya sebesar 22 Euro dan hostel ini memiliki dapur yang dapat digunakan untuk memasak. Kamarnya diisi oleh 6 orang karena memang hostel yang "murah" di Eropa selalu bersifat shared room. View yang disajikan dari halaman belakang hostel juga sangat indah, lekukan sungai yang membelah kota Lyon dan suasana peradabad Lyon menjadi daya tarik sendiri dari hostel ini. Kami lalu tiduran sebentar lalu mandi dan bergegas untuk ke downtown untuk berjalan-jalan merasakan menjadi penduduk Lyon ;). Selama satu setengah hari di Lyon, kami tidak sekalipun menggunakan kendaraan bermotor entah itu transportasi umum ataupun taksi, kami murni jalan kaki untuk menelusuri kota tua Lyon! ya jiwa backpacker kami sungguh terlihat disana. Menurut kami lebih menyenangkan untuk berjalan kaki karena kami dapat masuk lebih dalam melihat kehidupan dan peradaban dibanding hanya menggunakan transportasi umum yang hanya melintasi jalan-jalan besar Lyon. Terlebih lagi kota tua Lyon tidak begitu besar sehingga kami memperhitungkan dengan melihat map yang kami miliki kami dapat menelusuri sebagian besar hanya dengan berjalan kaki!
Suasana dari halaman belakang hostel
Kami menyusuri jalanan Lyon, melihat banyak sekali bangunan-bangunan tua bergaya klasik yang kokoh dan sombong serta terlihat sangat perkasa. Kami melintasi sungai yang cukup besar melalui jembatan untuk pejalan kaki. Kami mengunjungi pusat keramaian untuk mengetahui kehidupan masyarakat di Lyon. Berfoto dibeberapa tempat untuk dijadikan kenang-kenangan. Kami bertiga sungguh hebat! Lyon bisa dibilang salah satu diantara beberapa kota besar di Negara Perancis namun Lyon dapat menjaga kebersihan serta kelestarian kotanya, merawat bangunan-bangunan bersejarah sehingga terlihat perpaduan antara klasik dan moderen. Saat itu kami berjalan-jalan dari pukul 18.00 hingga 19.30 lalu kami memutuskan untuk berbelanja di Carrefour, brand supermarket yang menguasai pasar Perancis. Kami membeli bahan masakan untuk makan malam, kami sudah memutuskan untuk memasak makan malam karena ingin menghemat uang. Makanan sangat mahal jika membeli di restoran. Kami membeli spageti lengkap dengan saosnya, daging ayam filet serta beberapa buah dan cola. Selanjutnya kami kembali ke hostel untuk memasak makan malam bersama. Vladimir terkesan denganku karena saat di hostel di St. Genis dia melihat saya memasak dengan begitu jagonya sehingga dia meminta saya untuk memasak buat makam malam kali ini dengan dia dan Iliya bersedia menjadi asisten koki hahahaha. Saya bersedia saja karena memasak spageti sangat mudah terlebih sudah ada saos yang siap saji. Akhirnya kami memasak pukul 19.50 dan selesai sekitar 45 menit kemudian. Kami makan banyak sekali malam itu karena porsi untuk 5 orang kami habiskan bertiga :D. Kami menyantap makan malam sambil melihat Lyon di malam hari dari ketinggian, halaman belakang hostel. Suasana kami bertiga malam itu sungguh akrab, kami mengobrol, kami bercanda dan kami berdebat karena kami memiliki latar budaya, agama, keluarga yang berbeda namun kami dapat begitu akrab karena sains dan CERN yang menginisiasinya :).
Ditepi sungai Rhone

Diperjalanan balik untuk masak menuju hostel, aku terlihat lelah
Daerah Jalan kaki kami
Spageti!
Setelah puas menyantap pasta kami kembali bersiap-siap menuju downtown untuk menikmati kehidupan malam, perlu diketahui saat itu summer dan matahari baru terbenam sekitar pukul 9.30 dan malam pun akan menyambut. Kami keluar selain bertujuan menikamti kehidupan malam, kami ingin menonton perebutan tempat ketiga pada piala dunia 2014 antara Brazil dan Belanda. Kami berjalan kembali kali ini menelusuri rute yang berbeda, melewati jembatan yang berbeda, inilah dia Lyon di malam hari!
Disuatu sudut kota di malam hari
Saya lupa ini gedung apa
Saya dan Iliya dengan latar patung kuda

Awalnya begitu malam mulai muncul, Lyon tampak sepi, penduduk sebagian besar berdiam di apartemennya. Kami langsung saja mencari Pub untuk membeli minum dan menonton perebutan tempat ketiga. Di pub Iliya dan Vladimir membeli beer sedangkan saya hanya cola karena memang saya tidak suka rasa beer yang pahit, namun saya suka aromanya. Sama seperti kopi, saya suka aromanya namun saya tidak meminumnya karena alasan kesehatan. Kami minum sambil berbincang dan menonton bola :D. Menikmati Lyon's night life !. 
Pub!
Setelah puas menikmati minuman dan menonton bola yang dimenangkan oleh Belanda, kami keluar dari pub berjalan ke suatu arah menelusuri jalanan menanjak terkadang dilengkapi anak tangga. Kami berjalan cukup jauh hingga kami tak sadar ternyata gerimis lalu hujan dan mengharuskan kami berteduh di suatu bangunan, saat itu pukul 01.00 pagi. melihat suasana seperti itu kami memutuskan untuk pulang saja mengingat medan ke hostel naik dan cukup berat rasanya karena ini sudah pagi dini hari dan kami sudah mulai lelah ditambah hujan gerimis yang membuat kami merasa kedinginan. Kami berjalan dengan cepat tanpa peduli jaket dan rambut kami sudah basah. Dengan lelah kami akhirnya tiba di hostel sekitar pukul 01.45 dengan keadaan rambut dan jaket basah kuyup. Saya menyempatkan mandi air hangat beserta keramas sebelum tidur agar tidak sakit.
Diperjalanan pulang ditemani rintik hujan
Keesokan harinya kami bertiga bangun cukup telat, aku bangun pukul 08.00 pagi, langsung menuju ruang breakfast yang sudah termasuk di biaya sewa semalam hostel, Sarapannya tidak ribet, hanya sereal, ditemani orange juice serta roti perancis ditemani selai buah-buahan dan coklat :). Setelah itu teman saya bergabung dan menyelesaikan sarapan kami. Kami lalu mandi, lalu bersiap-siap check out karena batas check out pukul 10.00. Setelah check out kami kembali menelusuri kota di bagian utara sekalian menuju ke tempat hitchhiking untuk balik ke Jenewa. Kami mengunjungi sebuah taman yang didalamnya terdapat beberapa hewan seperti rusa, burung dan burung-burung. Taman itu juga ada lintasan jogging-nya serta lintasan sepeda. Setelah dari sana kami menuju ke tempat untuk mencari tumpangan pulang. Di ujung kota terdapat awal masuk jalan tol untuk melakukan aksi hitchhiking :D. Kami sempat salah spot namun beruntung ada orang lewat lalu memberi tahu kami bahwa jalan ke Jenewa berada di atas (jalan yang terletak lebih tinggi dari posisi awal kami). Kami sudah menunggu sekita 40 menit di posisi awal dan bergegas menuju posisi yang benar dan ternyata hanya dalam 10 menit ada seorang pria perancis yang menepi untuk mengangkut kami bertiga! beruntung! dia sangat baik! akhirnya kami akan kembali ke Jenewa melanjutkan aktivitas kami esok hari sebagai summies :).
Disudut kota saat bergegas balik ke Jenewa

Di suatu taman dan kebun binatang

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti ON MIPA-PT 2012 (Bagian 1)

Kehidupan Sebagai Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Flash Back : Berjuang di Olimpiade Sains Nasional 2010 Medan, Sumatera Utara