Bern dan Kisahku-CERN Summer Programme Bagian 7

April 2014 lalu aku membeli buku biografi Einstein dan aku membacanya, belum selesai juga, mengetahui dari sana bahwa Einstein tinggal di Bern selama memikirkan teorinya yang "menakjubkan". Einstein tinggal di sebuah apartemen lantai dua dan sering melewati Menara Jam Bern saat berangkat ke kantornya, Kantor Paten Bern. Cerita itu menjadi sangat dekat dan aku merasakan bagaimana rasanya menjadi dia saat aku bisa mengunjungi tempat tempat bersejarah itu.


"Imagination is more important than knowledge"-A. Einstein


Hari itu Sabtu, 5 Juli 2014 adalah tanggal pemilihan umum presiden untuk TPS Luar negeri. Kebetulan saya, Bagus dan Pak Haryo sangat ingin memilih. Saya dan Bagus tidak ingin melewatkan pemilu presiden pertama kami sedangkan Pak Haryo tidak ingin golput alias tidak memilih untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, biasa dia seorang akademisi yang sudah menjelajah Benua Amerika dan Eropa. Kami belum mengurus kepindahan hak pilih kami sehingga satu-satunya jalan agar bisa memilih adalah datang sebagai pemilih yang baru bisa memilih ketika ada kartu suara sisa dengan syarat membawa paspor dan ijin tinggal di luar negeri. Ya kami harus memilih jalan itu, merupakan sebuah perjudian karena TPS di Swiss terletak di Kota Bern yaitu di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern. Bern terletak 150an Km dari Geneva, kota tempat kami tinggal. Bagi saya tidak masalah karena ini lebih baik ketimbang hanya mendekam di kamar selama akhir pekan. Saya tidak berharap banyak bisa memilih dengan kartu suara sisa, jika dapat saya senang jika tidak maka tidak apa-apa. Saya hanya sangat berharap bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagi sains di Bern, ya tempat dimana Albert Einstein, pendobrak sains sempat tinggal selama 7 tahun. 

Kami berangkat dari St. Genis pukul 11.00. Kami menaiki mobil Pak Haryo, dia bersedia memberi kami tumpangan dengan biaya bensin patungan (maklum bensin disini mahal banget). Kami membeli bensin dan stiker toll. Di Swiss untuk masuk toll hanya dibutuhkan stiker yang tertempel di kaca depan mobil. Toll tidak memiliki gerbang toll sehingga sangat praktis. Stiker toll seharga 40 franc untuk setahun. Jadi jika kamu tidak memiliki stiker lalu masuk toll sebenarnya sah-sah saja karena pemeriksaan sangat jarang, namun disini kesadaran warganya sangat tinggi sehingga pemerintah berani tidak memasang gerbang toll di setiap jalan toll, super!. 

Membeli Bahan Bakar dan Stiker Toll
Membeli Bahan Bakar dan Stiker Toll
Dimulailah perjalanan kami dengan bantuan Google Map hehehe, memasuki toll dimana kanan dan kiri terlihat pemandangan yang sungguh indah, ladang gandum, kebun anggur, bukit hijau, ladang bunga matahari dengan bunganya yang kuning bersemangat serta pemandangan Lake Geneva yang memukau! Kami juga melihat peternakan sapi dan domba, sangat rapi dan indah :). Perjalanan akan membutuhkan waktu sekitar 2-3 Jam karena Pak Haryo tidak membawa mobil terlalu cepat, maklum mobil tua :p .

Pemandangan Bukit
Pemandangan Lake Geneva
Saya hanya diam, tak ingin berkata melihat pemandangan yang disuguhkan Tuhan. Tak menyangka lagi bisa berjalan-jalan di tanah Eropa :) dengan gratis. Hari itu emang sedikit mendung dengan hujan rintik-rintik yang kadang-kadang menyapa namun ini menjadi perpaduan yang sangat dinamis dimana saya bisa melihat pemandangan seindah ini dengan kombinasi cahaya matahari dengan sedikit kesejukan hujan. 

Singkat kata kami memasuki Kota Bern. Kota Bern adalah perpaduan antara Swiss dan Jerman, sangat berbeda dengan Geneva yang merupakan perpaduan antara Swiss dan Perancis. Bern lebih terlihat klasik dengan jalanan kecil dan bangunan tua yang angkuh. Pepohonan rindang menghiasi jalan-jalan disini. Geneva masih terlalu modern untuk sebuah kota di Eropa yang terkenal dengan model Renaissance-nya. Saya menikmati alunan Bern, merasakan saya sudah sangat dekat dengan tempat Einstein tinggal. Kotanya sangat damai, tidak ada kemacetan, transportasi publik menjadi pilihan utama dan sangat bersih tentunya!. 

Disebuah Perempatan di Bern

Kota yang Rindang

Kota yang Rapi dan Bersih

Tidak ada kemacetan
Saat itu pukul 13.30 Kami langsung mengarahkan mobil kami menuju KBRI Bern untuk mendaftar dan sampai disana ternyata pemilih yang mengantri untuk mendapatkan surat suara sisa sebanyak 20 orang, kami bertiga mendapat nomor 21, 22 dan 23 hahaha. Sebenernya ada surat suara cadangan sebanyak 14 lembar sehingga artinya kami harus menunggu surat suara sisa sebanyak 9 baru bisa memilih, kami berharap agar pemilih terdaftar ada yang tidak datang sebanyak 10 saja hehehe. Saya dan Bagus berkenalan dengan orang kedutaan dan berfoto-foto disana. Suasana Pemilu sungguh ramai, disediakan makanan dan minuman, ibu-ibu juga berjualan Indomie dan beberapa snack asli Indonesia. Acara pemilu ini sekaligus dijadikan momen silaturahmi untuk WNI yang berada di Swiss. 

Suasana Pemilu di KBRI Bern
Karena pemilih yang memilih dengan kertas suara sisa dimulai pukul 16.00, maka masih ada waktu sekitar 2 jam buat kami. Pilihannya menunggu di KBRI hingga bosen atau menggunakan waktu untuk mengunjungi suatu tempat di Bern. Ya! saya dan Bagus membujuk Pak Haryo agar mau mengantar kami ke sebuah menara jam Bern. Menara ini sering dilewati Einstein ketika dia pergi bekerja ke Kantor Paten Bern. Akhirnya apa yang saya impikan akan menjadi nyata. Lokasinya ternyata tidak terlalu jauh dari KBRI, hanya 3 sampai 4 Km dan membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit dengan mobil. Singkat kata kami sampai di area kota tua tempat menara jam yang bersejarah itu. Kota itu bernama Bern Stadt dan dalam opini saya kota terlihat seperti kota yang diceritakan atau digambarkan dalam sebuah dongeng-dongeng klasik eropa. Sungguh indah dan klasik! kota yang dikelilingi sungai yang sungguh biru, ya biru bersih dengan pepohonan yang rimbun serta bangunan tua klasik yang kokoh dan angkuh dengan jalanan berupa batuan yang sudah berumur ratusan tahun. Kami memutuskan memarkir mobil dan berjalan melihat kota yang menakjubkan ini. 

Sungai Biru, Bangunan Klasik, Pepohonan hijau, Bern Stadt!
Kami berjalan diatas jalanan batu-batu tua, dengan bangunan tua di kanan dan kiri. Saya bisa merasakan dulu Einstein pernah tinggal disini, memikirkan teori relativitasnya yang "menakjubkan". Seorang Jenius yang sangat saya kagumi karena ketidaktaatannya pada aturan dan pemikiran-pemikiran lama. Seorang yang mampu mendobrak sains dengan kepercayaan dirinya dan pemikirannya yang tidak terikat pemikiran lama. 

Sebuah tanda di Bern
Kota Tua

Sungai Bersih
Bangunan Klasik
Menara Jam Bern

Jembatan dan Bangunan
Saya berjalan menuju menara jam Bern, melewati bekas apartemen Einstein bernama "Einstein Haus" disana Einstein tinggal, di lantai 2. Sayang waktu itu saya tidak sempat masuk karena sudah tutup cepat karena akhir pekan. Tak terasa sudah pukul 15.30 sehingga kami bergegas menuju KBRI kembali untuk mengecek apakah kami bisa memilih..hehehe. Kami tiba tepat sebelum pukul 16.00 dan ternnyataaa kami bisa memilih :'). Bisa memilih dan dapat jalan-jalan ke Bern! senangnya! hehehe. Akhirnya kami bertiga memilih dan jari kelingking saya punya warna ungu yang pekat :)

Dari kiri ke kanan : Pak Haryo, Bagus, Saya
Setelah berhasil mencoblos, saya masih ingin melihat satu tempat lagi yaitu kantor paten Bern! dan Pak Haryo setuju, rupanya dia telah terinduksi aura saya hahaha. Akhirnya kami kembali lagi ke Bern Stadt! kembali melewati Einstein Haus, Menara Jam Bern, dan berjalan menuju kantor paten Bern! saya merasakan bagaimana Einstein berjalan dari apartemennya melewati jam menara Bern untuk menuju kantor Paten Bern :). Sungguh saya tidak bisa mengungkapkan rasa bahagia saya, saya tak menyangka bisa berada disini, merasakan apa yang Einstein rasakan. Sebuah proses mimpi dan otak kanan dengan imajinasinya yang kuat disertai usaha dan keberuntungan yang membuatnya menjadi nyata, bermimpilah karena mimpi itu hebat dan gratis :). Aku akan terus bermimpi, bermimpi hebat, bermimpi tinggi. Mimpi akan membuatmu berani untuk mengusahakan, berani untuk mencoba dan berani untuk mengambil resiko. Mimpi akan membukakan jalan-jalan kemungkinan untuk meraih mimpi itu sendiri. Sebuah proses yang rumit namun akan sederhana jika kita bermimpi lalu meyakini mimpi itu dan yakin kita akan meraihnya lalu impianmu terjadi, aku telah membuktikannya. Siapa yang menyangka biografi Einstein yang saya baca dengan scene Bern-nya menjadi nyata di depan saya, berdiri di kota yang diceritakan oleh sebuah buku yang menceritakan tokoh favorit saya :). Sungguh saya masih takjub dengan ini :). 

Einstein Haus
Didepan Kantor Paten Bern
Kantor Patent Bern!
Kantor Patent Tempo Dulu
(https://www.ige.ch/fr/qui-sommes-nous/einstein/questions-frequentes.html)

Menara Jam Bern Tempo Dulu, tetap sama, sungguh konservatif
Akhirnya setelah puas menikmati kota tua Bern, kami kembali menuju Geneva, kami akan mengunjungi acara buka bersama yang diselenggarakan oleh PTRI Geneva (Baca posting Bersepeda Berkeliling Geneva di Weekend Minggu Pertama Kontrak-CERN Summer Programme Bagian 5 untuk mengetahui PTRI Geneva ). Acaranya sungguh penuh kebersamaan, ditambah makanan Indonesia! waaah! saya sungguh kangen Indonesia, kangen keluarga, kangen Harumi dan juga teman-teman. 

Masakan Indonesia di Swiss! Buka Bersama!

Comments

  1. Itu tanda bern tanda jalan kah? Kenapa kecil bgt tulisannya T.T

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks for Commenting :)

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti ON MIPA-PT 2012 (Bagian 1)

Scientific Research in Indonesia needs big momentum to accelerate: A Reflection from Asian Games 2018

Flash Back : Berjuang di Olimpiade Sains Nasional 2010 Medan, Sumatera Utara