Berkenalan dengan Geneva-CERN Summer Programme Bagian 3

Hari itu tanggal 20 Juni 2014, sudah 2 hari saya bermukim di St. Genis Pouilly. Entah kenapa selama disini saya selalu tidur cepat dan bangun pagi-pagi, tidak seperti saat saya di Bandung yang selalu tidur tengah malam dan bangun menjelang siang (jika tidak ada kuliah, tentunya kuliah memaksaku bangun pagi). Pagi itu saya sudah bangun pukul 05.00. Saya rasa karena suhunya dingin untuk ukuran saya orang Indonesia yang biasa hidup di suhu hangat, disini summer saja suhunya sekitar 14-15 derajat lalu bagaimana kalau winter?. Saya lalu sarapan menggunakan sisa ayam brokoli yang saya masak kemarin, biasanya kalau di Bandung saya selalu membeli makan di warung makan dan kalau di Singaraja saya dimasakin oleh Ibu saya. Ya saya dituntut harus bs berhemat karena memang pembayaran allowance pertama itu di minggu kedua kontrak kami sehingga saya akan berusaha masak sendiri untuk menghemat, kalau beli makan di restoran pasti mahal, kisarannya sekali makan 10-15 CHF atau kalau dirupiahkan seharga Rp130.000-Rp156.000. Saya berpikir sungguh susah menjadi Ibu yang harus memasakkan setiap pagi dan sore tiap harinya karena saya baru 2 hari saja sudah mulai bosan masak karena bingung apa yang harus dimasak, maklum saya orangnya cepat bosan. Saya makan dengan lahap. Dingin membuat saya sangat lapar, butuh pembakaran energi untuk menghangatkan badan manusia tropis seperti saya.

Setelah itu saya mandi, untungnya disini bisa menggunakan perpaduan air dingin dan panas sehingga dihasilkan air hangat, ya saat menikmati shower air hangat, rasanya tidak ingin pergi kemana-mana. Rasanya itu hangat seperti saat pelukan (ups). Tak ingin melepaskan kehangatan itu, mungkin aku lagi kangen seseorang saat menulis ini. Setelah mandi cukup lama, akhirnya saya harus rela selesai dan membolehkan badanku merasakan dingin lagi, mungkin mandi air hangat mirip dengan peribahasa "berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ketepian, bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian" (emang ada ya peribahasa kaya gitu?). Setelah itu saya bersembahyang lalu mengisi pagi dengan mencari-cari buku yang berhubungan dengan Accelerator, Detector dan Particle Physics, saya mencari ebooknya dan rencana membacanya. Setelah beberapa buku, saya melihat ternyata tebal sekali, hahaha lalu akhirnya saya hanya menjadikannya koleksi di laptop saya. Siapa juga yang tahan membaca beberapa buku yang tebal dan berat. Oya saya mencari-cari ebook tadi sambil skype sama Harumi lalu dilanjutkan bersama Ibu saya di rumah, beda waktu antara St. Genis dan Indonesia yaitu 5 jam untuk WIB dan 6 jam untuk WITA. Saya juga membaca engineering news-nya CERN. Saya agak bingung karena belum tahu apa project saya, yang jelas ditempatkan di ALICE Experiment aja.

Hari itu Jumat dan akhirnya pukul 09.30 karena bosan saya mengajak Bagus, teman saya, untuk pergi ke CERN untuk mencoba meminjam sepeda. Setiba di CERN kami menuju tempat peminjaman sepeda namun apa boleh buat, lagi-lagi kami ditolak karena  kontrak kami belum dimulai. Pukul 10.30 kami akhirnya mengunjungi perpustakaan untuk membaca sebentar, saya membaca bulletin, ya hanya untuk menambah pengetahuan saja. Selanjutnya kami mencoba untuk menukar uang franc kertas kami dengan koin karena kami ingin membeli tiket tram (kereta listrik dalam kota) untuk melakukan "Tout Geneve" dalam bahasa Perancisnya yang artinya Tour Geneva. Kami bukan diberi koin namun diberi semacam prepaid card seharga 20 CHF dan kartu itu dapat digesek di mesin tiket yang terletak di pinggir jalan, disini apa-apa serba otomatis dan swalayan, mesin tiket otomatis, mesin snack otomatis, mesin kopi otomatis, dan membeli bensin pun swalayan. Akhirnya kami berdua membeli tiket tour Geneva yang dapat digunakan dalam waktu sejam alias 60 menit seharga 3.5 CHF. Rasanya sangat senang karena akan berjalan-jalan melihat kota Geneva. Tujuan kami adalah Bel Air dan disana terdapat danau yang terdapat Water Jet yaitu air yang ditembakan ke udara dengan menggunakan 2 buah pompa 1500 KW dengan debitnya 500 Liter per detik. Dari informasi yang saya baca, tinggi air mencapai 140 m !. Perjalanan dari CERN menuju Bel Air membutuhkan waktu sekitar 40 menit. Diperjalanan saya melihat-lihat pemandangan sekitar dan sungguh berbeda dengan kota di Indonesia. Ya kota ini sudah sangat modern dan tertata namun mereka tetap ramah lingkungan. Saya sangat iri dengan transportasi publik yang nyaman seperti ini, andaikan Indonesia juga punya, Indonesia harus belajar banyak hal dari negara maju. 
Tiket Tout Geneve

Tram Tout Geneve

Pukul 11.40 kami tiba di Bel Air dan apa yang kami temukan, benda-benda unik (lihat foto saya dibawah). Alunan piano klasik mengisi ruang kota, rupanya itu permainan dari pengamen jalanan yang menggunakan piano klasik, how!. Saya rasa dia tidak berniat mengamen alias mencari receh namun lebih tepatnya unjuk skill, siapa tau ada orang konser yang mengajaknya bermain di suatu konser musik klasik akbar, begitu pikir saya. 

Kursi Lucu
Kami enjoy saat itu dan memulai perjalanan kaki kami menyusuri pinggir danau Geneva, dari tempat pemberhentian kereta listrik sudah terlihat Water Jet, dalam bahasa Perancis disebut Jet d'eau (katanya sih bacanya : Jedo). Tidak banyak yang bisa saya katakan selain kagum! ya danaunya sungguh bersih, airnya biru-hijau dan disekitar danau tidak ada sampah plastik yang berserakan. Saya rasa Indonesia perlu belajar lagi untuk masalah ini :). Karena sangat senang, saya banyak sekali berfoto, namun saya hanya akan menaruh beberapa foto disini hehehe, sisanya saya konsumsi pribadi :p. 

Tempat Pemberhentian Tram

Gedung Eropa

Danau Biru-Hijau
Take a Pose!
lalu saya berjalan, menikmati udara yang menurut saya masih tidak lebih panas dari Bandung padahal saat itu sudah tengah hari. Kawasan ini termasuk kawasan wisata karena saya melihat banyak restoran yang menawarkan view danau dan sepanjang perjalanan aroma masakan Eropa seperti pasta, steak, barbeque melintas di hidung saya, saya hanya bisa menikmati aromanya hehehe, gak masalah :p. Kami bertujuan untuk melihat lebih dekat si Jedo hehehe, sehingga kami berjalan cukup jauh. Syukurnya saya membawa minum serta bekal makan siang hehehe. Pemandangan yang aneh bagi saya, saya melihat banyak gadis-gadis yang berjemur dengan bikini di taman-taman di sepanjang saya berjalan, sepertinya mereka tidak memiliki pantai yang lengkap dengan pasir putih halus seperti di Bali, sehingga mereka menjadikan taman untuk tempat berjemur.
Gadis-Gadis Berjemur
Saya juga berfoto di banyak tempat hehehe, kapan lagi saya bisa kesini kalau tidak dengan cara beasiswa. Kotanya banyak memiliki bangunan klasik, ciri khas Eropa. Besar, kokoh, berwarna coklat dengan kaca-kaca warna warni serta atap rumah yang tegas. Arsitekturnya rumit namun bagi saya lebih rumit ukir-ukiran Bali dan Jepara sih hehehe, saya bangga dengan Indonesia. 

Berfoto

Patung Legendaris
Lagi-Lagi Danau
Akhirnya setelah berjalan selama kurang lebih 2 jam kami mencapai titik yang bagi kami sudah cukup dekat dengan si Jedo, dan akhirnya saya mengambil foto dengan background jet air yang tinggi ini. 

Jet d'eau
Setelah berfoto disana, kami memutuskan untuk kembali karena sudah pukul 14.30, saat itu kami mengambil rute berbeda yaitu menyusuri dalam kota, melihat rumah-rumah dan jalanan. Uniknya disini itu pejalan kaki adalah raja dengan syarat kita menaati aturan, jika menyebrang harus dizebra cross dan pengemudi pasti akan mengalah, membiarkan kita lewat, hal ini berbeda jauh dengan di Indonesia dimana pengemudi mobil dan motor bagaikan pembalap hahaha. 

Di tengah jalan

Kaya Jalan Braga Bandung

Kota

Di suatu Terowongan
Akhirnya kami membeli tiket pulang dengan harga yang sama, lelah namun menyenangkan! :). Sampai di Hostel saya memasak nasi lalu tidur sore karena lelah dan malamnya saya memasak rawon menggunakan bumbu jadi yang saya bawa dari Singaraja. Pukul 22.00 saya memutuskan untuk mengakhiri hari dan saat itu belum juga gelap, selamat malam St. Genis!

Pukul 22.00 di St. Genis


Comments

  1. Yay! Makin bagus! :D
    Semoga makin seru ya! Ditunggu cerita lainnya.

    ReplyDelete
  2. Ketut Subaktiasih4:08 pm

    ibu sdh baca semua bim.bagus n detail. tulis lagi u yg esok esok ya.oya beli sarung tangan biar gk dingin jari jarinya.ingat jgn suka panik ya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks for Commenting :)

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti ON MIPA-PT 2012 (Bagian 1)

Revolutionizing Indonesian University

Flash Back : Berjuang di Olimpiade Sains Nasional 2010 Medan, Sumatera Utara