Berburu Beasiswa General Electric Foundation Scholar-Leaders Program

Biaya kuliah di ITB per semesternya bagi saya cukup memberatkan orang tua. Memang orang tua saya tidak miskin, namun tidak juga kaya raya ditambah lagi saya masih memiliki dua orang adik yang masih bersekolah di SMP dan SMA sehingga biaya yang dikeluarkan oleh orang tua saya untuk biaya kuliah semester dan uang hidup di Bandung bulanan bisa dibilang cukup memberatkan. Tidak mungkin saya mendapatkan beasiswa untuk kategori miskin karena ya seperti yang telah saya jelaskan diatas bahwa orang tua saya tidak bisa dikategorikan miskin. Sehingga dengan semangat saat pertama kali menjadi mahasiswa ITB saya harus bisa mendapat beasiswa untuk meringankan beban orang tua entah dalam membayarkan uang bulanan atau uang kuliah.
Saya yakin agar bisa mendapat beasiswa saya harus memiliki indeks prestasi yang bagus dan harus juga terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan atau kegiatan diluar kuliah yang positif. Maka dari itu sejak semester pertama saya selalu berusaha meraih IP bagus dan tetap berkegiatan di unit kegiatan mahasiswa. Singkat kata ada beberapa peluang beasiswa tanpa embel-embel surat keterangan tidak mampu (bahasa halus dari surat keterangan miskin), saat itu saya sedang semester 3. Peluang tersebut diantaranya datang dari Tanoto Foundation, Astra First Program, dan General Electric (GE) Scholar-Leaders Program. Saya mendaftar semuanya dengan mengumpulkan berkas. Saya lolos screening berkas di Tanoto Foundation namun karena ada acara Pentas Tari Bali XI yang diadakan Asrama Mahasiswa Bali Viyata Tampaksiring, yaitu asrama tempat saya tinggal dan saya menjadi ketua divisi acaranya maka saya tidak bisa mengikuti seleksi kedua yang berupa FGD (Focus Group Discussion) di Tanoto dimana hari pelaksanaannya bersamaan dengan acara Pentas Tari Bali XI. Saya cukup kecewa karena satu peluang lewat, namun saya masih yakin karena masih ada dua peluang. Saya berpikir kalau saya bisa lolos tahap seleksi berkas (screening) di Tanoto, maka kemungkinan besar saya juga lolos di GE dan juga Astra. Singkat cerita pada bulan Mei 2013 tanggal 3 saya mendapat telpon dari pihak IIEF (Indonesia International Education Foundation) sebagai pihak yang bertugas melakukan seleksi beasiswa GE Scholar-Leaders Program. Emailnya seperti ini :

Sdr. Gde Bimananda Mahardika Wisna,

Bersama ini kami sampaikan bahwa aplikasi saudara untuk mengikuti seleksi beasiswa GE Foundation Scholar - Leaders Program 2012/2013 menuhi syarat untuk mengikuti test kemampuan Bahasa Inggris dengan test Institutional TOEFL®. Seluruh pelamar dari UI, IPB, ITB dan UNPAD yang terseleksi direncanakan akan mengikuti test TOEFL® ITP di LBI-UI antara tanggal 7 – 8 Mei 2013 yang akan datang; jadwal test akan dikonfirmasikan kemudian, melalui email/ponsel. Pada waktu tes nanti setiap peserta harus membawa KTP/Paspor, KTM, Pensil 2B, penghapus pensil dan alat tulis lainnya.

Mulai saat ini rajin-rajinlah saudara untuk mengecek email ya. Kami persilahkan saudara untuk mempersiapkan diri.

Saya sangat senang saat itu karena saya merasa memiliki kesempatan kedua untuk mendapatkan beasiswa meringankan beban orang tua saya, hehehe. Namun saat itu adalah musim UAS untuk ITB atau dengan kata lain saya tidak akan bisa mempersiapkan untuk seleksi Tes TOEFL ini karena jadwal UAS saya yang padat. Terlebih jadwal Tes TOEFL yang diberitahukan di email tersebut bentrok dengan jadwal UAS saya. Segera saya menelpon pihak IIEF untuk melakukan negosiasi agar saya bisa mendapat dan diberikan waktu mengikuti Tes TOEFL di waktu yang berbeda karena memang UAS tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya melalui negosiasi yang cukup panjang saya bisa mengganti tanggal tersebut menjadi tanggal 9 Mei. Berangkatlah saya ke Jakarta bersama teman saya yang juga dari ITB Teknik Industri, namanya Dean Ario Wirawan. Dia juga lolos seleksi berkas. Beruntung saya sudah mengenal Ario sejak Tahap Persiapan Bersama di ITB (Sebutan untuk tahun pertama di ITB) dan secara kebetulan Ario memiliki paman yang tinggal di dekat lokasi tes yaitu di Menara Imperium Jakarta. Saya diperbolehkan menginap di rumah pamannya selama semalam karena kami berangkat H-1 tes sore hari tepat setelah UAS agar kami tidak lelah dijalan dan fit saat mengerjakan tes. Hari H kami menuju Menara Imperium kantor IIEF di lantai 26. Disana kami menunggu satu orang lagi yang ternyata dari ITB juga bernama Edo anak Fisika ITB. Rupanya semua anak ITB dipindah ke tanggal 9 karena memang tanggal 9 itu kebetulan kami bertiga bisa karena tidak ada UAS. Tes TOEFL pun dimulai, saya saat itu baru pertama kali mengerjakan Tes TOEFL karena memang sebelumnya sama sekali tidak pernah mengerjakan tes semacam itu, dan lebihnya lagi tanpa persiapan dan hanya mengandalkan kemampuan dan ilmu yang dimiliki setelah belajar Bahasa Inggris sejak SD kelas 4. Saya merasa kesulitan di Listening Section karena memang sangat jarang saya mendengar native speaker berbicara. Untuk sesi Grammar and Structure saya bisa menjawabnya namun tidak merasa mudah, hanya saja mampu untuk menjawabnya. Bagian Reading Comprehension saya juga bisa menjawab karena memang telah terbiasa dalam membaca buku teks Berbahasa Inggris untuk matakuliah. Setelah selesai tes, kami berdua bergegas balik ke Bandung karena masih ada UAS yang menunggu esok hari, benar-benar perjuangan!.



Selanjutnya setelah tes tersebut, kami semua peserta Tes TOEFL akan mengikuti seleksi ketiga yaitu seleksi wawancara yang akan dilakukan oleh panelis. Berikut cuplikan email dari IIEF :


Dengan hormat, 
Dalam rangkaian proses seleksi GE Foundation SLP 2012/2013, kami mengundang saudara untuk mengikuti wawancara oleh Tim Panelis Independen di kantor IIEF di Jakarta pada Selasa, 14 Mei 2013 jam 8:30 - 12:30. Tidak ada jadwal wawancara lain selain waktu yang telah disebutkan.

Ya itu adalah seleksi terakhir untuk beasiswa ini. Saya sangat bersemangat karena saya sangat menginginkan beasiswa ini untuk membantu meringankan beban orang tua saya. Saya berangkat ke Jakarta bersama Edo Hari H wawancara.  Berangkat pagi Hari pukul 06.00 berharap sampai Menara Imperium pukul 10.00 paling lambat. Syukur hanya ngaret setengah jam dan kami tiba di sana pukul 10.30. Kami bergegas menuju lantai 26. Disana sudah banyak peserta dari berbagai universitas seperti UI (Universitas Indonesia), UGM (Universitas Gajah Mada), IPB (Institut Pertanian Bogor), Universitas Diponegoro, ITS (Institut Teknologi Sepuluh November), dan Universitas Brawijaya. Saya menenagkan diri sambil mengisi absen dan surat penggantian biaya transportasi pulang pergi Bandung-Jakarta. Tiba giliran saya untuk diwawancara, sebelumnya ada yang diwawancara dalam Bahasa Inggris, ada juga dalam Bahasa Indonesia.Saya masuk ke ruangan dan terdapat tiga orang panelis, yang jelas saya tidak kenal semua panelis tersebut. Saya dipersilahkan duduk lalu mulai ditanya-tanya. Saya mencoba tenang dan berusaha senyum jika akan menjawab dan serius saat mendengarkan pertanyaan, saya tanpa persiapan untuk wawancara ini!. Saya ditanya tentang motivasi, cita-cita, kegiatan apa saja yang dilakukan, karakter saya dan banyak hal teknis lainnya. Saya berusaha menjawab dengan jelas, detail, orisinal dan unik serta memperlihatkan semangat dan antusias. Sesekali saya tertawa karena memang panelis memberikan guyonan yang lucu, hehehe. Akhirnya saya selesai dan keluar ruangan, lega rasanya dan sekarang saya hanya bisa pasrah menunggu hasil yang katanya akan diumumkan seminggu kemudian lewat pos ke alamat masing-masing. Saya kembali ke Bandung dan sangat berharap mendapatkan beasiswa ini!.



Seminggu telah terlewati dan saya menunggu pos yang dijanjikan oleh IIEF, mereka mengatakan kami akan mendapat pos yang memberitahu diterima atau tidak. Saat itu saya sedang kuliah kerja ke Waduk Cirata, Purwakarta bersama angkatan Teknik Fisika ITB 2011. Saat sedang dijalan menuju Waduk Cirata saya mengirim SMS ke teman saya diasrama apakah ada pos untuk saya, dan dijawabnya tidak ada, saya deg-degan menunggu pos tersebut. Tiba-tiba teman saya menelpon balik yang memberitahu ada paket pos untuk saya dari IIEF, sontak saya menyuruhnya membuka lalu memintanya membacakan isinya lewat telepon. Lewat telepon teman saya membacakan cuplikan surat yang ada di paket tersebut yang berbunyi :


Dear Gde Bimananda Mahardika Wisna :
The Indonesian International Education Foundation (IIEF) is pleased to confirm that you have been selected as a 2013 GE Foundation Scholar-Leaders. . . . .

Mendengar hal tersebut saya sangat senang dan berteriak dalam hati. Saya merasa sangat bangga bisa dihargai atas kerja keras belajar dan usaha saya selama 1.5 tahun kuliah di ITB!. Terimakasih IIEF dan GE Foundation. Special Thanks to : Bu Fenty, Bu vera, dan Bu Futy Crew IIEF :).

Comments

  1. Inspiratif sekali pengalaman Anda. Kalau boleh tahu, kegiatan kemahasiswaan apa yang pernah dan sedang Anda ikuti?

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih Nurlaily, saya tidak terlalu banyak kegiatan kemahasiswaan yang saya ikuti, saya hanya mengikuti unit kegiatan kesenian Bali di Maha Gotra Ganesha ITB, dan juga unit kegiatan keluarga mahasiswa hindu ITB, Sekarang sedang menjadi wakil ketua disana. Saya juga ikut Himpunan mahasiswa fisika teknik namun hanya anggota biasa saja. Walaupun tidak banyak, saya selalu berusaha memetik pengalaman dan nilai berharga dari kegiatan yang saya ikuti. :)

      Delete
  2. Ka bima aku pernah liat profil k bima di majalah AMI, mau nanya dong ka caranya dapet ipk bagus di tpb gmn.

    ReplyDelete
  3. Caranya sebenarnya harus dari dirimu sendiri, memiliki motivasi dan keinginan yang kuat dan mau mengusahakannya. Jika bersungguh2 pasti bisa. Belajar teori dengan baik dan latihan soal sebagai penerapannya. Ingat juga berdoa :).

    ReplyDelete
  4. Kak aku mau nanya dong... wawancara itu pake b inggris apa indo ? Makasi y :3

    ReplyDelete
  5. Halo kak, aku juga daftar ge foundation, belum pengumuman tapi. Bari dapat email berkas sidah diterima pihak ge foundation. Se ipb yg daftar ge foundation ada 2, saya dan teman saya. Apa kah ada kuota dr ge foundation, atau sesuai dgn kemampuan tiap2 orang nya?

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks for Commenting :)

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti ON MIPA-PT 2012 (Bagian 1)

Scientific Research in Indonesia needs big momentum to accelerate: A Reflection from Asian Games 2018

Flash Back : Berjuang di Olimpiade Sains Nasional 2010 Medan, Sumatera Utara